Required Hydro-Oceanography Survey for Marine Work in CFSPP Project

Survey works for Coal Fired Steam Power Plant (CFSPP) project is one of mandatory things need to be done prior of detail design of marine work. There are some surveys needed to obtain primary data at and around the planned location consist of topographical and bathymetrycal survey, hydro-oceanography survey (tidal observation, current speed measurement, sub-bottom profilling, wave recording, sediment sampling and temperature measurement).

The topographical survey includes planned location of the power plant and its surround in order to obtained detailed map of the location, including planned location map as well as chimney location and coal fly ash influencing area. Detailed map shall be consist of land surface including land situation and height also appearance position on the planned location of the Power Plant and its surround. Bathymetric surveys are carried out in order to get the water depth map of the project area. Bathymetric and topographic map shall be integrated in one coordinate reference.

The objective of the other hydro-oceanography surveys are to obtain knowledge of general hydro-oceanography condition at the project location which will be used as parameters for further simulation and analysis.

Following are the surveys which commonly performed in Indonesia:

Batu Bara  sebagai Bahan Bakar PLTU

Saat ini, hampir semua PLTU di Indonesia menggunakan Bahan Bakar batubara.  Alasan utama tentunya karena biaya produksi listrik PLTU batubara dibandingkan dengan menggunakan Bahan bakar Minyak (BBM) jauh lebih murah, setidaknya biaya bahan bakar  BBM 6 kali lebih tinggi dari batubara atau bahkan lebih.

Untuk dapat mengenal lebih dalam batubara, mari kita perhatikan salah satu contoh analisa batubara sebagai berikut

Brief Description of Marine works in Coal Fired Steam Power Plant (CFSPP)

No one deny that designing and constructing a Coal Fired Steam Power Plant (CFSPP) is a complex process and require collaboration among engineers from various expertise. For an example, a marine engineer will closely related to mechanical and civil engineer to be able to design the sea water intake, coal unloading jetty discharge channel, breakwater (if necessary) and navigation line. Each marine facility need specific inputs from mechanical.

There are three major marine facilities; cooling water intake, coal unloading jetty (with or without breakwater) and discharge channel.

Let’s start from sea water intake. (the following picture shows typical sea water intake for a small power plant (2×10 MW)typically cooling water intake for 2x10 MW

typically cooling water intake for 2x10 MW

Commonly, a power plant requires cooling water for its cooling system. The cooling water may be taken from the nearest source such as sea or river with minimum influence of sedimentation (both dissolved and suspended). During design process, Marine Engineer needs a several data from Mechanical Engineer as follow:

Menghitung Plant Heat Rate PLTU

Suatu peralatan atau sistem yang menghasilkan output yang diinginkan misalnya listrik, uap, gerak, dan lainnya tentunya memiliki performa terukur. Nilai performa ini didefinisikan sebagai perbandingan antara usaha yang dilakukan dibandingkan dengan nilai posistif yang didapatkan. Misalnya pada pompa diukur dengan effisiensinya, Air conditioner (AC) performanya diukur berdasarkan Coefficient of performance (COP) , begitupun pembangkit listrik tentu ada suatu nilai performa yang diukur.

Suatu pembangkit listrik diukur performanya berdasarkan suatu nilai yang disebut dengan Heat rate dengan satuan yang biasa digunakan adalah  kKal/kW h. Parameter tersebut merepresentasikan nilai energi input dibandingkan dengan energi yang dihasilkan dalam kilo watt hour (kWh). Misalkan suatu PLTU memiliki heatrate 3000 kkal/ kW h artinya PLTU tersebut membutuhkan bahan bakar dengan energi sebesar 3000 kkal untuk menghasilkan 1 kWh.

Pada PLTU ada beberapa heatrate berdasarkan posisi pengambilan titik pengukurannya:

  1. Turbine Heat rate (THR)
  2. Gross Plant Heat rate (GPHR)
  3. Nett Plant Heat Rate (NPHR)

Kurang Energi, (harusnya) Sudah Tidak Jaman

Oleh : M. Ari Mukhlason

Indonesia adalah Negara kepulauan, dengan jumlah pulau terbanyak di seluruh dunia. Tercatat tidak kurang dari 13.000 pulau ada di Negara kesatuan republik Indonesia. Membentang dari pulau weh sampai pulau Irian. Dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe Talaud sampai Nusa Tenggara Timur.

Listrik, sebagai kebutuhan dasar manusia modern adalah bentuk konversi energi yang paling universal sifatnya dan menjadi salah satu hak warga Negara Indonesia. Di sini dikatakan sebagai bentuk energi yang paling universal, karena dari energi listrik bisa diubah menjadi bermacam-macam bentuk energi yang lain seperti energi panas (mesin las, kompor, pemanas air, dkk), gerak dan putaran (motor listrik, kipas angin), dan berbagai macam peralatan manusia modern yang sangat banyak ragam, jumlah dan fungsinya.